Telp: 021 8267 8797

12345

Terwujudnya pendidikan berbasis islamic worldview dalam membentuk pribadi berkarakter yang mampu menghambakan dirinya kepada Rabbul 'Alamin

Visi SMP Islam Dewan Da'wah

Kalender Sekolah 

« August 2019 »
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
      1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31  

Pedoman Dasar SMP Islam Dewan Da'wah

Prolog

Pendidikan adalah proses “memanusiakan” manusia. Dengan pendidikan manusia akan menjadi makhluk mulia yang sebenarnya, karena pendidikan akan menjadikan kita beradab. Dengan pendidikan, manusia baru dapat menjalankan fungsi yang sejati yakni menjadi hamba Allah SWT (QS. 51:56) dan menjalankan misi penciptaannya sebagai “khalifah” di muka bumi (QS. 2:31).

 

Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT dengan deklarasi awal yang sangat fenomenal: Iqrobismirobbika! Bacalah dengan nama Rabb-mu.! Pesan yang sangat jelas, tegas, lugas, cerdas dan terpadu dalam upaya membangunkan masyarakat yang “bodoh” menjadi umat mulia. Sejak saat itulah dimulai revolusi pemberdayaan manusia melalui pendidikan yang bersumber dari wahyu Ilahi (QS. 62:2).

Pendidikan yang benar dan efektif akan melahirkan anak-anak manusia yang kreatif dan mampu berperan aktif dalam memproduksi kemashlahatan yang menumbuhkan kemanfaatan bagi hidup dan kehidupan. Pendidikan yang benar dan efektif akan mengantarkan masyarakat menjadi bangsa yang beradab, sejahtera lahir batin. Sebaliknya, pendidikan yang salah dan carut marut akan menjadikan rakyat Indonesia akan menjadi bangsa yang bodoh, miskin dan a-moral.

Dalam Islam, pendidikan menempati posisi yang sangat luhur, karena pendidikan adalah upaya (proses) menumbuhkan, mengembangkan (tarbiyah) potensi (fithrah) manusia menuju manusia yang “mulia”. Proses peluhuran manusia melalui penumbuhan potensi adalah suatu proses yang menyiapkan manusia untuk mengemban amanah mulia, yaitu menjadi “duta” Allah SWT di atas muka bumi (khalifatuLlah fil ardl), yaitu menjalankan dua fungsi utama; “Imarah dan Ri’ayah” yang sangat memerlukan bekalan kekuatan iman, ilmu dan kemampuan (keahlian), kekuatan fisik, moral dan capital. Oleh karena itulah, Pendidikan menjadi agenda pertama “pemberdayaan” manusia pertama (Nabi Adam), dan deklarasi pertama dari Al-Islam. Hakikat pendidikan dalam Islam menjadikan manusia sebagai makhluk yang menjalankan fungsi dan misi (abid dan khalifah). Abid adalah manusia yang iman dan takwa, tawadhu, tawakkal, shadiq, istiqamah dan sabar. Khalifah adalah memberi manfaat dan mashlahat melalui al-amr bil ma’ruf dan an-nahyu ‘anil munkar, amal shalih, af’alul khair, sadaqah, ta’lim, menegakkan keadilan, mensejahterakan, mengamankan, mendamaikan, di bawah naungan Allah SWT.

Pada sisi lain, tampaknya pendidikan Islam telah kehilangan substansinya sebagai sebuah lembaga yang mengajarkan bagaimana memberdayakan akal dan pikiran. Meminjam istilah Syed Mohammad Husein Al-Attas, pendidikan Islam telah kehilangan “Spirit of Inquiry” yaitu hilangnya semangat membaca dan meneliti yang dulu menjadi supremasi utama dunia pendidikan Islam. Dengan hilangnya semangat ‘inquiry’, kegiatan mengajar dan belajar di sekolah/madrasah/pesantren menjadi monoton, satu arah dan kurang mampu mengembangkan metode yang melatih dan memberdayakan kemampuan belajar peserta didik. Mereka hanya terpaku pada metode menghafal, menyimak dan sangat kurang mengembangkan budaya diskusi, seminar, bedah kasus, problem solving, eksperimen, observasi, dan sebagainya. Peserta didik menjadi kurang terampil dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan.

Krisis pendidikan Islam merambah ke semua jalur dan jenjang baik yang berada dalam jalur madrasah, sekolah umum ataupun bahkan yang diselenggarakan oleh masyarakat baik jenjang pendidikan dasar, menengah maupun pendidikan tinggi sekalipun. Bukti adanya krisis adalah citra pendidikan Islam itu sendiri yang memudar dan seolah tertatih-tatih dalam menyongsong dan menghadapi kehidupan global yang semakin menantang dan kompetitif.

Fahmi Alaydroes (Dewan Pembina Jaringan Sekolah Islam Terpadu) mengatakan, globalisasi telah dengan nyata melanda kehidupan umat manusia. Suka ataupun tidak suka, umat Islam harus menghadapinya dengan segala implikasinya.

Ciri-ciri kehidupan global antara lain: Pertama, terjadinya pergeseran dari konflik ideologi dan politik ke arah persaingan perdagangan, investasi dan informasi dari keseimbangan kekuatan ke arah keseimbangan kepentingan. Kedua, hubungan antar negara/bangsa secara struktural berubah dari sifat ketergantungan ke arah saling ketergantungan, hubungan yang bersifat primordial berubah menjadi sifat tergantung kepada posisi tawar-menawar. Ketiga, batas-batas geografis hampir kehilangan arti operasionalnya. Kekuatan suatu negara ditentukan oleh kemampuannya memanfaatkan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Keempat, persaingan antarnegara sangat diwarnai oleh perang penguasaan teknologi tinggi. Setiap negara terpaksa menyediakan dana yang besar bagi penelitian dan pengembangan. Kelima, terciptanya budaya dunia yang cenderung mekanistik, efesien, tidak menghargai nilai dan norma yang secara ekonomi tidak efesien.

Pergaulan global dengan cirinya seperti diuraikan di atas, disamping mendatangkan sejumlah kemudahan bagi manusia, juga mendatangkan sejumlah efek negatif yang dapat merugikan dan mengancam kehidupan.

Dampak negatif tersebut antara lain: Pertama, pemiskinan nilai spiritual. Tindakan sosial yang tidak mempunyai implikasi materi (tidak produktif) dianggap sebagai tindakan tidak rasional. Kedua, kejatuhan manusia dari makhluk spiritual menjadi makhluk material, yang mengakibatkan nafsu hayawaniyyah menjadi pemandu kehidupan manusia. Ketiga, peran agama digeser menjadi urusan akhirat sedang urusan dunia menjadi urusan sains (sekularistik). Keempat, Tuhan hanya hadir dalam pikiran, lisan, dan tulisan, tetapi tidak hadir dalam perilaku dan tindakan. Kelima, gabungan ikatan primordial dengan sistem politik modern melahirkan nepotisme, birokratisme, dan otoriterisme. Keenam, individualistik. Keluarga pada umumnya kehilangan fungsinya sebagai unit terkecil pengambil keputusan. Seseorang bertanggungjawab kepada dirinya sendiri, tidak lagi bertanggungjawab kepada keluarga. Ikatan moral pada keluarga semakin lemah, dan keluarga dianggap sebagai lembaga teramat tradisional. Ketujuh, terjadinya frustasi eksistensial, dengan ciri-cirinya: a). Hasrat yang berlebihan untuk berkuasa, bersenang-senang untuk berkuasa, bersenang-senang untuk mencari kenikmatan, yang biasanya tercermin dalam perilaku yang berlebihan untuk mengumpulkan uang, untuk bekerja, dan mengejar kenikmatan seksual. b). Kehampaan eksistensial berupa perasaan serba hampa, hidupnya tidak bermakna, dan lain-lain. c). Perasaan hidup tanpa arti, bosan, apatis, tidak mempunyai tujuan, dan sebagainya. Keadaan semacam ini semakin banyak melanda manusia, hari demi hari. Kedelapan, terjadinya ketegangan-ketegangan informasi di kota dan di desa, kaya dan miskin, konsumeris, kekurangan, dan sebagainya.

Pendidikan Islam memainkan peranan yang sangat penting dalam mempersiapkan generasi menghadapi era yang penuh dengan tantangan. Pendidikan Islam harus mampu menyelenggarakan proses pembekalan pengetahuan, penanaman nilai, pembentukan sikap dan karakter, pengembangan bakat, kemampuan dan keterampilan, menumbuh-kembangkan potensi akal, jasmani dan ruhani yang optimal, seimbang dan sesuai dengan tuntutan zaman.

Kenyataannya, pendidikan Islam (khususnya di Indonesia) telah berjalan dalam lorong krisis yang panjang. Pendidikan Islam telah kehilangan pijakan filosofisnya yang hakiki, yang kemudian berdampak kepada tidak jelasnya arah dan tujuan yang hendak dicapai. Pendidikan Islam juga tertatih-tatih dan gagap menghadapi laju perkembangan zaman dan arus globalisasi. Akibatnya, output pendidikan Islam, yang semestinya melahirkan generasi “imâmul muttaqîn” malah melahirkan generasi yang gagap: gagap teknologi, gagap pergaulan global, gagap zaman dan bahkan gagap moral! Perlu strategi yang tepat dalam membangun pendidikan Islam yang sebenarnya.

Pendidikan yang benar dan efektif akan melahirkan anak-anak manusia yang kreatif dan mampu berperan aktif dalam memproduksi kemashlahatan yang menumbuhkan kemanfaatan bagi hidup dan kehidupan. Pendidikan yang benar dan efektif  akan mengantarkan umat menjadi beradab; sejahtera lahir batin. Sebaliknya, pendidikan yang salah dan carut marut akan menjadikan umat bodoh, miskin dan a-moral.   

Lingkup Pendidikan Islam SMP Islam Dewan Da’wah

  1. Pendidikan jasadi
  2. Pendidikan akal
  3. Pendidikan aqidah
  4. Pendidikan akhlak
  5. Pendidikan kejiwaan
  6. Pendidikan keindahan (estetika)
  7. Pendidikan kemasyarakatan
  8. Pendidikan peran jinsiyah
  9. Pendidikan keterampilan dan kecakapan


Prinsip kurikulum pendidikan Islam SMP Islam Dewan Da’wah

  1. Al-Takamul (Integritas)
  2. Al-Tawazun (Keseimbangan)
  3. Al-Syumul (Menyeluruh)
  4. Orientasi pada Tujuan
  5. Al-Ittishal (Kontinuitas)
  6. Sinkronisasi
  7. Relevansi
  8. Efesiensi
  9. Efektivitas


Hal-hal yang harus diwaspadai pengelola SMP Islam Dewan Da’wah

  1. Krisis Paradigmatik
  2. Krisis Visi dan Arah
  3. Krisis Pengembangan
  4. Krisis Proses dan Pendekatan Pembelajaran
  5. Krisis Pengelolaan (Manajemen)
  6. Krisis Komunikasi


Idealisme yang harus dimiliki oleh SMP Islam Dewan Da’wah
1.    Misi kekhalifahan ditunjang oleh Ilmu (al-Baqarah: 32-33)
2.    Ilmu datang mendahului, sebelum Iman (a-Alaq: 1-5)
3.    Semua Nabi dan Rasul dibekali Ilmu/hikmah
4.    Tingginya derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan (al-Mujadilah: 11)

Model Pendidikan SMP Islam Dewan Da’wah

  1. Lingkungan yang asri, nyaman dan aman
  2. Misi sekolah yang jelas dengan komitmen kepada tujuan intruksional, prioritas, prosedur assessment dan akuntabilitas
  3. Kepemimpinan intruksional di bawah arahan kepala sekolah yang memahami dan menerapkan berdasarkan karakteristik efektivitas intruksional
  4. Adanya iklim dimana seluruh staf guru mengharapkan dengan sangat akan tuntasnya pencapaian basic skill oleh para peserta didik
  5. Tenaga kependidikan yang selalu berorientasi kepada penyelesaian tugas, terampil dalam mengelola waktu secara efektif
  6. Supervisi yang efektif kepada seluruh pengajar: upaya memberikan bimbingan, umpan balik dan dukungan kepada staf pengajar
  7. Pemantauan yang berkelanjutan terhadap kemajuan prestasi peserta didik, menggunakan hasil belajar peserta didik untuk program pengembangan individual maupun perbaikan program instruksional, serta melakukan proses penilaian yang sistematis
  8. Hubungan sekolah dan rumah yang positif di mana orangtua memberikan dukungan yang bermakna dan memainkan peranan penting dalam upaya pencapaian misi utama sekolah


Standar efektivitas SMP Islam Dewan Da’wah

  1. Kurikulum yang terencana
  2. Adanya dewan penimbang kurikulum
  3. Persyaratan kelulusan yang ketat
  4. Kesempatan untuk melampaui target kurikulum
  5. Tingkat kehadiran yang tinggi dan angka drop-out yang rendah
  6. Biaya pengeluaran per-peserta yang tinggi
  7. Rasio peserta didik berbanding guru yang rendah
  8. Perpustakaan dan program media yang fasilitatif
  9. Fasilitas dan lingkungan sekolah yang baik
  10. Kompetensi guru yang tinggi
  11. Kepala sekolah yang peduli
  12. Rekaman prestasi peserta didik


Langkah strategis yang harus ditempuh SMP Islam Dewan Da’wah
1.    Membangun Paradigma Pendidikan Islam yang sebenarnya
a.    Paradigma ilmu sebagai obyek bahasan
b.    Paradigma holistik-integralistik
2.    Membangun Model Lembaga Pendidikan Islam yang ideal
a.    Mengusung nilai dan pesan Islam sebagai ruh dalam setiap kegiatan sekolah
b.    Mengintegrasikan nilai kauniyah dan qauliyah dalam bangunan kurikulum
c.    Menerapkan dan mengembangkan metode pembelajaran untuk mencapai optimalisasi proses belajar mengajar
d.    Mengedepankan qudwah hasanah dalam membentuk karakter peserta didik
e.    Menumbuhkan biah shalihah dalam iklim dan lingkungan sekolah
f.    Melibatkan peran serta orangtua dan masyarakat dalam mendukung tercapainya tujuan pendidikan
g.    Menjamin seluruh proses kegiatan sekolah untuk selalu berorientasi pada mutu
3.    Memperkaya Kurikulum PAI yang berwawasan: Islamic Worldview, jihad dan dakwah, global dan iptek
4.    Membangun jaringan lokal dan global dengan sesama lembaga pendidikan Islam
5.    Menjalin kemitraan dengan industri, institusi dan pusat-pusat iptek, budaya dan ekonomi
6.    Membuat pusat pengembangan guru
7.    Benchmarking dengan world class school

Karakteristik SMP Islam Dewan Da’wah

  1. Menjadikan Islam sebagai landasan filosofis
  2. Mengintegrasikan nilai Islam ke dalam bangunan kurikulum
  3. Menerapkan dan mengembangkan metode pembelajaran untuk mencapai optimalisasi proses belajar mengajar
  4. Mengedepankan qudwah hasanah dalam membentuk karakter peserta didik
  5. Menumbuhkan biah shalihah dalam iklim dan lingkungan sekolah; menumbuhkan kemashlahatan dan meniadakan kemaksiatan dan kemunkaran
  6. Melibatkan peran-serta orangtua dan masyarakat dalam mendukung tercapainya tujuan pendidikan
  7. Mengutamakan nilai ukhuwah dalam semua interaksi antar warga sekolah
  8. Membangun budaya rawat, resik, rapih, runut, ringkas, sehat dan asri
  9. Menjamin seluruh proses kegiatan sekolah untuk selalu berorientasi pada mutu
  10. Menumbuhkan budaya profesionalisme yang tinggi di kalangan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan